Setelah menunggu cukup lama. Akhirnya yang ditunggu datang juga..... Kemarin dulu, tepatnya sekitar bulan Juli - Agustus aku pesen Kubuntu dan Edubuntu (Ubuntu belum bisa dipesan). Di site-nya ertera seri 7.10 (Gutsy Gibon), waktu itu aku terheran-heran, kan waktu rilis harusnya bulan September, tapi kok dah ada?? tapi yo tetep tak pesen aja. Saat bulan September temenku kasih tahu klo Ubuntu 7.10 dah bisa dipesen. Jadi Aku pesenlagi. Gak tanggung-tanggung aku pesen Ubuntu, Edubuntu dan Kubuntu sekalian. Karena temenku pesen Ubuntu sampai 8 keping. (batin saya ngapain banyak2) Sedikit kecewa karena lama gak datang juga. Akhirnya pada tanggal 26 Desember setelah libur cuti bersama akhirnya datang juga pesananku yang pertama. Disitu tertulis pesanan datang tanggal 22 Desember, dan tertulis biaya Rp 7000,00. Senengnya hatiku.   Tak lama kemudian pada tanggal 28 Desember pesenanku tang kedua juga datang. Tapi tetep bayar juga Rp 7000,00. (wah kantongku jadi makin tipis, padahal bisa buat makan dua kali tuh  ). Tapi gak papa, lha wong dapat kiriman dari Belanda jee.  Bagi temen-temen yang pengen pesen juga, bisa pesen di : https://shipit.ubuntu.com/ » Kalau mau pesan Ubuntu https://shipit.kubuntu.org/ » Kalau mau pesan Kubuntu https://shipit.edubuntu.org/ » Kalau mau pesan Edubuntu Info berbahasa Indonesia : http://www.ubuntu-id.org/ubuntu/shipithttp://www.ubuntu-id.org/news/cd-ubuntu-7-10-gratis-dari-shipitmoga membantu...
Short Course dan Open House UBUNTU
Akhirnya telah terbit ubuntu versi terbaru yang bernama Ubuntu Gutsy Gibbon 7.10. Ini merupakan terbitan setelah feisty fawn 7.04. Merupakan sebuah momen rutin dalam terbitnya Linux Ubuntu, yaitu setiap bulan ke 4 dan bulan ke 10, hal ini terlihat dari kode rilis, contohnya Gutsy Gibbon 7.10 yaitu terbit bulan 10 di tahun 2007.
Hari Sabtu tanggal 3 November 2007 diadakan acara Short Course dan Open House UBUNTU di LPK Andicomp Jogja. Dimulai dengan Short Course Ubuntu yang membahas mengenai Linux dan Isu Legalitas, Linux di Seklah hingga Ubuntu Gutsy Gibbon ini sendiri. Acara ini diikuti oleh undangan dari sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan.
Kemudian diikuti dengan Open House Ubuntu dan bagi-bagi CD Ubuntu Gutsy Gibbon. Acara ini diikuti oleh kalangan yang lebih umum, terutama orang yang masih awam mengenai linux itu sendiri.
Walaupun datang terlambat (jam 4-an lebih) dan acara sudah selesai, tapi aku dapet juga Gutsy Gibbon-nya (untung belum abis). Disana sempet juga nyoba kelihaian dari Gutsy Gibon versi Gnome (dikenal dengan Ubuntu) dan KDE (dikenal dengan Kubuntu).
Karena salah atu seponsornya adalah Telkom Speedy maka tak coba juga internetnya, mayan cepet juga. Buat nyalain aplikasi yang lain OK juga. sempat nyoba "Blender" tapi gak bisa makenya. Klo dilihat tampilannya Ok banget.
Setelah pamit pulang, mampir ke rumah gem's tuk nyikat kue dan nge-teh dulu (ueenak tenan, palagi dingin abis ujan). Setelah puas pulang ke kos untuk nyoba nginstall Gutsy Gibbon-nya.
Tapi sayang, gak mau di install di komputerku. Kernel Panic melulu, kenapa ya? Padahal Prosesornya PIII Celeron 1 GHz, 256 MB, VGA OB share 32, DVD LiteOn 152B. Kurang apa ya sebenernya?? Catatan --> kali ini aku pake KULIAX 6.0 dan lancar jaya (kecuali njalanin film resolusi besar di *.rmvb) Wah dah ngebet e!
Anyel to, tak coba di kompinje masku P IV Celeron 2 GHz, 512 Mb, R9250 128 MB, cdroom Samsung Luancarrrr. Tampilanya ok dan gak lelet. Tapi yang aku kecewa ternyata gak ada format multmedia yang bisa dimainkan, cuman *.ogg aja. Mungkin perlu upgrade codec kali. Tapi aksesnya cepet juga, buat buka macem-macem aplikasi gak lelet (ya lah, RAMe 512 MB).
Mungkin nunggu punya XUBUNTU Gutsy Gibbon aja ah.......
memilih notebook (laptop) studi kasus VGA Jogja. Kalangan mahasiswa dan kalangan pelajar pada saat ini sudah menggap notebook atau dulu lazim dikenal dengan laptop menjadi barang yang tidak mewah lagi, terbukti dengan ditemukannya para mahasiswa yang gemar nongkrong di selasar atau hall di kampus mereka dimana tersedia hotspot atau kawasan akses internet. Bersamaan dengan itu muncul juga notebook rakitan dalam negeri murah seperti forsa, zyrex (pemain lama), axioo, byon, dan sebagainya. Bahkan forsa berani menjamin 2 tahun garansi... Permasalahannya bagaimana memilih notebook yang murah dan berkualitas? Berhubungan dengan ini kita juga harus mendefinisikan apa kebutuhan kita. Ternyata untuk masalah ngenet, ngetik, nge-multimedia, nge-game dan nge-MP3-an nggak membutuhkan prosesor yang tinggi, hanya tambah memori aja lancar dah (1G atau 2G cukuplah :P). Permasalahan berikutnya ada pada kemampuan grafis dari notebook kita. Pada umumnya yang nempel di notebook khususnya intel prosesor adalah Intel Graphics Media Accelerator (GMA) 900-an. Berbeda dengan AMD prosesor yang memakai ATI Mobility Radeon atau NVIDIA GeForce Go yang terkenal pada jajaran PC Desktop (komputer yang gede). Pada pengujuan dengan 3DMark03 Intel Graphics Media Accelerator (GMA) 900-an hanya mendapat ratusan point, bahkan tidak sampai 200. Berbeda dengan NVIDIA GeForce Go 7300 yang dapet 700 point atau ATI Mobility X1100 yang dapet 1330 point. Perbedaan yang sangat signifikan bukan? Akan tetapi selain prosesor dan grafis card banyak yang perlu diperhatikan seperti bentuk (bagi yang suka "pasionabel"), material bodi, besarnya space hardisk, berat badan, lubang saluran udara, atau mungkin yang terpenting yaitu kemampuan batre (namanya barang mobile). Maka keputusan membeli adalah kembali pada konsumen senditi met berburu notebook.... sumber: forum.hyem.org www.notebookcheck.net/ATI-Radeon-Xpress-1100.2174.0.html
Jogja. True Power? Bersertifikat? Mungkin kata diatas merupakan syarat yang kita butuhkan dalam memilih PSU atau power supply untuk PC kesayangan kita. PSU sangat berpengaruh pada umur komputer kita, bisa dikatakan PSU merupakan Jantung-nya komputer kita. Karena kebutuhan daya pada MotherBoard, VGA, Hardisk dan komponen lain pada komputer tergantung dari PSU itu sendiri. Genre "True Power" muncul karena beberapa merek yang menjual dagangannya bo'ong atau menuliskan 500 Watt pada kemasannya tetapi daya sesungguhnya hanya 250 Watt. Hal ini kan menjengkelkan banget kan. Disini ada istilah yang harus dimengerti yaitu Continous Power, Peak Power dan Efisiensi Continous Power adalah daya yang harus disediakan oleh PSU dalam waktu terus menerus (namanya juga continous). Continous Power adalah daya yang seharusnya tertulis pada PSU bukan Peak Powernya yang tertulis di PSU. Peak Power adalah daya puncak atau daya yang disediakan oleh PSU tersebut untuk mengatasi terjadinya lonjakan kebutuhan daya pada saat terjadi full load. Biasanya daya ini keluar hanya terjadi beberapa detik saja. Bingung to?? Awalnya aja aku juga bingung. Kita akan masuk pada contoh soal. contoh soal: sebuah PSU yang memiliki label true power 400 W pada kondisi normal atau terus menerus dia akan menyediakan daya murni (kaya penjual bensin eceran atau susu segar aja ya) sebesar 400 Watt. Sedang pada suatu kejadian PSU ini dibebani daya yang berlebih karena kebutuhan daya yang berlebih dari komputer, maka PSU ini akan menyediakan daya 500 Watt selama 30 detik untuk mengatasinya. Efisiensi, PSU dikatakan keren bila memiliki efisiensi yang besar, misal 99,9% jadi cuma 0,1% terbuang (tapi nggak mungkin). Maka di dunia ini PSU dikatakan bagus jika efisiensi max hingga 80%. eh binging?? Kita masuk contoh soal contoh soal: sebuah komputer membutuhkan daya 80 Watt (mana ada? Uiriittt Biiyyanget iki) maka PSU akan menyediakan 100 Watt. maka dalam perhitungan 80% efisiensi 20% atau 20 Watt daya hilang atau biasanya berubah menjadi panas. Sertifikat?? Setelah membaca efisiensi 80% maka ada sertifikat 80PLUS untuk menjamin bahwa PSU ini telah memiliki daya efisiensi 80%. Untuk tahu merek dan produk apa yang dijamin dalam 80PLUS silahkan buka http://80plus.org/manu/psu/manu_psu.htm . Nah kita jangan tertipu dengan PSU murahan yang menyantumkan Peak Power pada kemasannya bukan True Power yang seharusnya tercantum. Dan 80PLUS menjadikan kita memiliki referensi apa aja sih PSU yang terjamin 80% efisiensinya?? Maka cari PSU yang murah tapi bukan murahan. sumber: forum.hyem.org
Ngayogyakarto Hadiningrat, 05 Oktober 2007 Mentari GPRS Rp 1,- / Kb Asik nih aku jadi bisa ngenet dirumah. Di itung-itung untuk sekedar ngecek e-mil dan multiply lumayan murah. Walopun GPRS kecepaannya mirip warnet yang di spanduknya nulis 512Kbps. Sebenernya ada pemanfaatan lain GPRS dengan mig33, katane kaya IM-an. Bisa murah SMS-annya, malah ngobrol. Tapi sampai saat ini M55-ku gak mau njalanin mig33. Apa karena serinya masih java lama ya... Tapi klo lewat komputer asik lho... to NGK nuwun disilihi kabel data.
Ngayogyakarto Hadiningrat, 28 September 2007
Review Film
Stranger than Fiction
Memiliki alur cerita yang cukup menarik. Dikisahkan Harold Crick adalah seseorang yang memiliki kebiasaan hidup tiba-tiba dia mendengar jalan hidupnya dinarasikan oleh suatu suara. Suatu ketika narasi menyebutkan tentang kematiannya yang tinggal menunggu waktu.
Akhirnya dia menemui seorang psikolog yang merekomendasikan agar dia bertemu dengan seorang ahli sastra. Setelah berdiskusi dengan ahli sastra tersebut ada indikasi bahwa seseorang penulis novel sedang mengarang kisah hidupnya.
Pada sisi Karen Eiffel seorang novelis yang seluruh karyanya pasti membunuh aktornya sendiri, sedangkan dia sedang mengalami "writer's block". Sedangkan penerbit telah mengejar-ngejar agar karya novelnya dapat segera selesai.
Akhirnya dia mengetahui yang ia tulis adalah nyata. Bagaimana sang penulis akhirnya menyelesaikan karangannya ? Apakah aktor utama benar-benar mati???
Film ini lumayan seru dan memiliki alur cerita yang kuat. Seperti film-film lain yang sedikit berbicara mengenai psikis seseorang, menurutku ini cukup mengena psikisku. Selalu mirip dengan kisah hidupku, atau tidak sengaja mirip ya?.
Semoga dapat menjadi salah satu reverensi film anda.
ngayogyakarta hadiningrat, 8 September 2007 diketik dengan gedit 2.14.2 OS Ubuntu 6.06 LTD ditemani alunan JET - Get Reborn Komputerku terdiskriminasi,..... Celeron Tualatin 1 GHz, Ram 256 Share 32 untuk VGA. Apakah belum cukup kuat untuk menjalankan sistem operasi linux??? Sebelum Menggunakan OS ini aku menggunakan beberapa OS Linux yang lain. Tapi satu-persatu memuat aku kecewa. Kinerjanya memang setabil, tapi kompabilitasnya kurang. Pertama kali aku mencoba menggunakan Simple Mepis 3.0. Sueneng buanget waktu itu. Aku sombongin ke temen-temenku. Bosen ganti ke knoppix 3.1 (lho kok malah ke versi lama?). Namanya juga nyoba, walau lawas santap juga. kemudian satu demi satu dan silih berganti kugunakan distro yang lain seperti Kanotik, Kuliax 6.0, Linux XP, ubuntu 5.04, ubuntu 7.04 (punyane NGK), xubuntu 7.04. terakhir ini aku menggunakan ubuntu 6.06 ini. Semua yang pernah kucoba ada bagusnya tapi pasti juga ada jeleknya. Sebenarnya gak boleh dikatakan jeleknya. Disini kemungkinan kekurangan saya dalam cara pengunaannya. (bukan orang yang ada di bidang komputer). Tapi tetep akan kujelaskan kenapa kusebut jelek (karena pasti akan banyak insan yang akan membantu atau menghina). Aku orang yang lebih seneng menikmati komputer sebagai mesin multimedia, seperti dengerin suara, atau sekedar nonton film. Nah kesenanganku ini sering membuat aku kecewa dengan Linux. Seperti terakhir ini aku menggunakan ubuntu 5.04 dan saat ini menggunakan ubuntu 6.06, aku cuma bisa dengerin lagu dan film dengan format *.ogg (ogg forbis format atau apa gitu...). Padahal aku punya lagu dengan format MP3, WMA, WAV serta film dengan format MPG, RMVB, AVI, mereka semua gak mau jalan di ubuntuku ini...  Yang paling oke diajak mainken format diatas cuma Kanotik dan Kuliax, soale aku berhasil nginstal codec pada keduanya. Kalo yang lain gak mau (nah ini kekuranganku, mungkin aku yang gak tahu cara nginstalnya). Benernya di ubuntu 6.06 ini nginstal codec -nya sukses lho, tapi kok tetep gak mau ya??? Trus kenapa gak pake Kanotik atau Kuliak aja??? ini ada alsannya bro.... Kanotik berat aplikasinya (jalanin file rmvb jadi patah-patah). Sebenarya di Kuliax oke banget tapi setelah install codec -nya, abis restart error di GRUB -nya (malah gak bisa dipake linuxnya). Moga tulisanku ini bisa direspon dengan cacian atau ejekan yang membangun. Trims dah baca
| |